www.riaukontras.com
| Hari Pertama Dinasnya Sebagai Dandim 0314/Inhil, Letkol Inf Imir Faisal Langsung ke Lokasi Karhutla | | Dr. H. Ferryandi, ST. MM. MT Ditetapkan Sebagai Ketua DPRD Inhil | | Gubri Syamsuar Harapkan Masyarakat Merubah Pola Tanam Pengganti Sawit Berkomiditi Ekspor | | Bupati Harris Ingatkan Kepala Desa Agar Mengalokasikan ADD Untuk Pembelian Alat Pemadam Api | | Ketua Definitif DPRD Siak 2019-2024,Kandidat Kuat, Azmi dari Partai Golkar Peroleh Kursi Terbanyak | | Ini Nama dan Asal Negara Tour de Siak, Peraih Posisi Pertama Etape I Siak - Dayun - Siak
Follow:     Serikat Perusahaan Pers
Jum'at, 20 09 2019
 
Banda Aceh
Pemuda Aceh Selatan; Sepertinya yang Ngomong itu Bukan Muhammad Nazar yang Dulu
Editor: Muhammad Abubakar | Jumat, 31-05-2019 - 17:19:39 WIB

TERKAIT:
 
  • Pemuda Aceh Selatan; Sepertinya yang Ngomong itu Bukan Muhammad Nazar yang Dulu
  •  

    BANDA ACEH, RIAUKontraS.com - Tanggapan Muhammad Nazar terkait isu referendum yang bergulir dinilai sebagai bentuk mulai terkikisnya nilai-nilai perjuangan ke-Acehan di dalam diri Muhammad Nazar.




    Penilaian ini disampaikan oleh mantan Wakil Ketua Pemuda Aceh Selatan (PAS) Pajril Darmi kepada media, Jum'at, (31/05/2019) dini hari.




    Menurut Pajril, ungkapan Muhammad Nazar "Bek Culok rakyat Aceh lam Mon Tuha" itu seakan menunjukkan referendum itu sebagai Mon Tuha" yang seakan-akan tak elok. 


    Hal ini dinilai secara tidak langsung Muhammad Nazar sedang mencoba meludah ke atas.



    "Seharusnya sebagai tokoh yang pernah ikut menggerakkan referendum Bang Nazar tak perlu menunjukkan sikap yang terlalu sensitif terkait isu referendum. Semestinya, beliau justeru memberikan masukan-masukan kepada rakyat agar referendum itu berjalan damai dan demokratis sesuai yang termaktub di dalam konstitusi," ujar pemuda asal Aceh Selatan itu.





    Masih kata Pajril, dia (Muhammad Nazar-red) juga mengatakan rakyat sudah pintar menilai, supaya ke depan Aceh tak terjebak lagi dalam permainan genderang orang lain. "Ini pernyataannya akan menjadi tanda tanya di publik, terutama generasi sekarang, apakah dulu ketika 1999, Muhammad Nazar terjebak terjebak genderang orang lain? Sehingga bahasa referendum itu seakan membuatnya harus gelisah berlebihan,"tambahnya.





    pajril juga mengherankan bahasa Muhammad Nazar yang menyebutkan Aceh dan Jawa siapkan diri menghadapi kemungkinan, tapi tidak mesti referendum. "Pernyataan itu benar-benar kontradiktif. Justeru hal itu akan menyeret publik untuk menganggap sepertinya yang ngomong itu bukan Muhammad Nazar yang Dulu. Justeru kami melihat Muhammad Nazar yang kini terlalu tinggi kepentingan politisnya kepada pemerintah pusat hingga mengabaikan suara kerinduan masyarakat Aceh, padahal suara itu pernah mengantarkannya kepada kursi orang nomor dua di Aceh,"imbuhnya.





    Pajril menyebutkan, wacana Referendum yang ditawarkan oleh Mualem itu hendaknya direspon positif, tidak sensitif. "Itukan pendapat Mualem jadi harus dihargai, tinggal lagi bagaimana wacana tersebut dilakukan sesuai dengan konstitusi di negeri yang demokratis ini. Kita justeru berharap sebagai salah satu penggerak tuntutan Referendum pada 1999 tempo hari, Muhammad Nazar memberikan masukan-masukan agar wacana referendum tersebut berjalan baik dan kegagalan-kegagalan yang pernah terjadi pada masa lalu," cetusnya.





    Pajril melanjutkan, referendum itu kan jejak pendapat bukan konflik, jadi jangan disalah tafsirkan terlalu dini. "Wacana Referendum itu dilakukan untuk  untuk melihat keinginan rakyat Aceh itu cenderungnya seperti apa. Toh, di negara-negara dengan demokrasi maju seperti Swiss referendum itu dilaksanakan sampai 3-4 kali setahun, bahkan urusan tanduk sapi pun pernah direferendumkan di Swiss. Jadi jangan sensitif apa lagi alergi terhadap kata referendum karena cara itu dibenarkan di negara yang menganut sistem demokrasi termasuk Indonesia,"jelasnya.





    Pajril meminta agar semua tokoh berumbuk, duduk untuk merespon dan merencanakan wacana referendum ini agar berjalan baik sesuai konstitusi dan tak melanggar nilai-nilai demokrasi. "Sudahlah hentikan spekulasi dan kepentingan pribadi, kita jawab kerinduan rakyat dengan memberikan kesempatan rakyat berpendapat melalui referendum," tandasnya.(Muhammad Abubakar)


    Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
    Silakan SMS ke 0821 7241 8111 / 0852 7850 2555
    via EMAIL: riaukontras@gmail.com
    (mohon dilampirkan data diri Anda)


     
    Berita Lainnya :
  • Pemuda Aceh Selatan; Sepertinya yang Ngomong itu Bukan Muhammad Nazar yang Dulu
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
    TERPOPULER
    1 Pesan Ahok Buat Istrinya Bila Dirinya Meninggal Dalam Waktu Dekat
    2 Ahok Akhirnya "Mundur"
    3 Bupat Meranti Apresiasi Bantuan CSR Mesin Pemadam Kebakaran PT. Timah
    4 Aktivis Aceh Timur Dukung Aksi Masyarakat Julok
    5 Jaksa: Siap Panggil Paksa Ibas Cs
    6 Pabrik Springbat PT Caisar Terbakar
    7 Rumah Ahok Terbakar Bersama 16 Rumah Lainnya
    8 Siapa Punya Uang Rp 100 Ini Sekarang Harga nya Luar Biasa sekali, Bisa Mencapai Ratusan Juta Rupiah
    9 Hakim Wanita Pengadilan Agama Terjaring Razia Saat Selingkuh di Kamar Hotel
    10 Kapolres Bener Meriah, di Gugat Rp 1,1 Milyar
     
    Galeri Foto | Advertorial | Opini | Indeks
    Redaksi Disclaimer Pedoman Tentang Kami Info Iklan
    © 2015-2017 PT. RIAUKONTRAS PERS, All Rights Reserved